Aku terpaku dalam sunyinya malam, membayang setiap angan, terlintas banyak pengharapan dan mimpiku.Semua terasa menyenangkan menurutku, bergerak dengan mimpi dan harapan adalah penguat tiap langkahku, langkah menuju lebih baik, kini terbayang kembali masa itu, dimana aku jatuh pada pijakanku sendiri. Terpeleset tanpa sengaja, membuat semua kacau, mimpi dan pengharapanku.
Penguat tiap langkahku menghilang bak debu tertiup angin, ingin rasanya aku lepaskan seluruhnya, perasaan bebanku sendiri, semua terasa membebani pundakku, peristiwa itupun terulang, aku kembali padanya, mendekatkan diriku kembali pada seorang, seseorang dimasa lalu yang aku telah tutup kisahku dengannya, kudekatkan diriku dengan tanpa penjagaan, aku mengulangnya, kubuka kembali lembaran lamaku, kubuka pintu kesakitan yang telah tertutup. Aku yakin semua aku lakukan karna aku lelah pada masa itu, lelah menopang berat di pundakku dengan berbagai macam problematika yang aku merasa menanggungnya sendiri waktu itu.---Semua berawal dari, dia datang kembali padaku di saat masalahku memuncak, semangat juang diriku menghilang, dan jujur pada waktu itu, yang aku butuhkan adalah motivasi dari sekelilingku, aku butuh perhatian seseorang yang dapat mengembalikan aku pada diriku yang sebenarnya, dan detik itu aku mengingat kembali masa laluku, masa dimana kisah itu berlalu, masa dimana semangat mimpiku berada di puncak emosi diriku, semangat hidup terbaikku. Aku ingat itu, semua terulang, aku dekatkan kembali diriku dengan harapan penuh, dialah orang yang mampu mengembalikan aku pada diriku yang sebenarnya, kedekatan pun berlalu, semua aku lakukan tanpa aku batasi diriku sama sekali, aku lupakan semua yang sebenarnya aku anggap salah, aku benarkan sikapku, aku mulai mau, berdua dengannya, pada saat itu, aku anggap itu adalah hal biasa yang banyak orang melakukannya. Aku mau di antarnya, berdua. Sesuatu yang aku pantangi diriku sebelumnya, waktupun berjalan selama empat hari kulalui diriku yang sebenarnya itu bukan aku, hari pun berlalu waktu demi waktu terlewat selama empat hari aku merenungi diriku sendiri dengan banyaknya perubahanku itu, dan di titik akhir hari keempatku aku kembali menemukan diriku sendiri, aku sadar bukan dengan di dorong orang lain aku bisa memotivasi diriku sendiri masa itu, tapi dengan kedekatanku pada Rabb-ku. Aku sadar semua yang kulewati itu, hari-hari kacauku itu terlewat karna aku jauh denganNya. Perlahan akupun dapat temukan diriku kembali dengan banyak keterlanjuran perubahan burukku selama seminggu.Pelan-pelan ku benahi semua. Aku kembali pada pemahamanku semula,aku kembali pada prinsip hidupku sendiri, aku kembali pada mimpi-mimpi ku yang dulu, semua penguatanku kembali pada tempatnya secara perlahan. Terasa betapa beratnya meningkatkan diri kembali menjadi lebih baik dari sebelumnya, aku kembali pada diriku sendiri.Tentang dia, aku putuskan kembali hubunganku dengannya, karna aku merasa, rasa bersalahku pada pemahamanku yang aku langgar jugalah yang membuatku semakin berat melangkah waktu itu, tak mau ku pungkiri, memang dia yang ada di masa sulitku, tapi bukan karnanya aku dapat mengembalikan diriku, tapi karna aku kembali dekat dengan Rabb-ku, semua kembali pada posisinya masing-masing, dan dia, satu kesalahan besar yang aku lakukan di masa jatuhku adalah melepaskan penjagaan diriku sendiri. Kesalahan terbesarku, membuat hubunganku dengannya menjadi buruk. Tapi, mulai detik itu aku kembali yakin dengan memutuskan semua yang terbaik dan dilakukan karna Allah adalah hal terbaik dan sesuatu yang akan memiliki hasil yang juga terbaik. Insya Allah... kembali kutata mimpi dan harapanku, kukuatkan tiap langkah menuju kebaikan, butuh usaha lebih memang untuk mengembalikan semua pada tempatnya. Tapi itulah pemimpi, ada saat di mana jatuh adalah baik. Pembelajaran hidupkupun bertambah. Tidak selamanya bermimpi itu berjalan diatas dengan aman, ada masanya tali pelindung terlepas dan kemudian jatuh terguling dari pijakannya, tapi seorang pemimpi akan menjadi lebih kuat jika ia dapat membuatnya kembali di atas memperbaiki tali pelindung, dan kembali bergerak diatas bahkan ia berusaha mengencangkan talinya untuk dapat bergerak menanjak hingga ia temukan pijakan berikut di atasnya.. bermimpi dalam hidup adalah menyenangkan. Semangat!
4 April 2012
Sang Pemimpi
2 April 2012
Mentari Hatiku
Orang bilang, pertemuan pertama
selalu kebetulan. Tapi bagaimana pertemuan-pertemuan kita selanjutnya? Apakah
Tuhan campur tangan didalamnya?
Sebut saja ia Tata, nama yang
singkat, mudah diucapkan, dan mudah diingat. Aku masih benar-benar ingat,
pertemuan pertamaku dengan Tata adalah ketidaksengajaan. Memang sebelumnya aku
sudah mengenalnya, bukan mengenalnya tapi sekedar mengetahui nama dan
sedikit tentangnya saja. Aku tahu dia dari temanku yang kebetulan sangat dekat
dengannya. Aku cukup salut dengannya kala temanku bercloteh tentangnya, rasa
penasaranku terhadap sosok Tata semakin mendalam.
Mungkin ini takdir, aku dan Tata
dipertemukan dalam pertemuan yang benar-benar tidak terencana sebelumnya. Tapi
sudah tentu rencana yang Maha Kuasa.“Bagaimana dengan lombamu?“ kalimat
pertama yang aku lontarkan kepadanya. “ah lomba apa? Makan krupuk?“ jawabnya
seolah mengelak. Kami hanya berbincang-bincang sedikit, anehnya ia sama sekali
nggak bertanya siapa namaku. Suatu ketika kita bertemu,dia melontarkan senyum
singkat kepadaku. Fikirku dia sudah lupa denganku. Aku sangat senang mendapati
dia tersenyum kepadaku, seperti sedang kejatuhan rejeki yang berlimpah. Dalam
situs jejaring, aku sengaja mengajaknya chat. Sejak itu dia mulai tahu
namaku. Aku ingin kenal lebih dekat dengannya. Aku coba sms dia, dia
membalas smsku. Aku kembali senang. Sempat aku bercerita banyak kepadanya, dan
kita semakin akrab seiring berjalannya waktu.
***
Pagi yang cerah, aku bermain voly
bersama teman-temanku. Awalnya aku nggak tau kalau ada dia di sekitar lapangan.
Ketika aku hendak bermain voly, dia menanyakanku kepada salah satu temanku. Tak
lama kemudia dia menemukanku.“Icha..!!“ dia memanggilku. Aku kikuk, sempat
salah tingkah di depannya. Mungkin jika aku bercerita hal ini kepada
teman-temanku mereka akan mencemoohku dan mengatakan aku lebai. Aku
menghampirinya. Tapi aku nggak tau harus ngapain.
“ada apa?“ tanyaku dengan sedikit
terbata-bata.
“nggak papa, Cuma ingin ngobrol sama
kamu“
“ya, gimana kabarmu?“ aku sengaja
basa-basi.
“baik, kamu sendiri?“
“baik juga..“
Dia menanyaiku seputar tentang
hidupku. Perlahan dia memutarku ke belakang, ke arah masa laluku. Tapi cukup
senang, dia memotivasiku. Aku mendapatkan banyak pelajaran darinya pagi itu.
***
Gerimis mengguyur kotaku hari ini.
Tak lama kemudian, hujan turun sangat deras. Dalam derasnya hujan aku bermain
hujan-hujanan untuk melepas penat. Aku bersama satu orang temanku
hujan-hujanan, aku bertemu dengannya lagi. Dia menghampiriku dan kami pun
bermain hujan bersama. Dalam gemericik air hujan, kita larut dalam gelak canda
tawa. Sepertinya hujan benar-benar menghapus penatku. Semenjak itu aku mulai
jatuh cinta pada sang hujan.
Hujan telah mereda, aku mulai
kedinginan. Ku ambil handuk kemudian langsung tancap ke kamar mandi. Selang
beberapa hari, aku jatuh sakit. Fikirku dia akan menjengukku. Tapi mungkin aku
terlalu berharap. Kemana? Kemana dia? Hanya satu pertanyaan itu yang datang
dari hati kecilku.
Waktu berlalu sangat cepat, sepeti
putaran roda mobil yang sedang dikendalikan oleh pembalap dan berusaha menyelip
pembalap yang ada di depannya. Sebentar lagi aku ulang tahun. Tapi sikapku
masih aja kaya anak kecil. Butuh waktu lama untuk pendewasaan diri, dan mungkin
ini belum saatnya. Harapanku di ulang tahunku tahun ini, aku bisa menjadi lebih
dewasa dan tidak manja lagi.
Hari spesial, yang
kutunggu-tunggu kini tiba. “Happy birthday to you.. happy birthday to you..
happy birthday happy birtday.. happy birthday to you..“ teman-teman memberiku
surprise dengan membawa sebuah kue coklat. Tepat jam 12 tepat, enambelas tahun
yang lalu aku dilahirkan dari rahim ibuku. Sedih sekaligus bahagia aku rasakan.
Sedihnya karena umurku semakin tua dan sisa hidupku semakin berkurang. Tentu
bahagia karena moment ini hanya datang sekali dalam setahun.
Aku cari kemana Tata, dia nggak ada.
“masa dia lupa sama ulang tahunku?“ tanyaku dalam hati. Tapi kebahagiaan
tersendiri bagiku, dia memberiku surprise yang sangat nggak kuduga sebelumnya.
***
Kali ini aku kecewa dengannya. Hatiku
benar-benar gelap kala mendapati dia seolah acuh kepadaku. Aku mencoba
melontarkan senyum kepadanya, tapi yang kudapati hanyalah dia dengan tampang
monoton. Dia sama sekali nggak membalas senyumku tadi. Entah apa yang membuat
dia jadi seperti itu. Sikapnya ke aku terkadang tak lebih justru nyakitin aku.
Seperti musim pancaroba, kadang panas kadang hujan. Tak tentu. Sama persis
dengan dirinya, kadang baik kadang sok acuh. Air mataku menetes dari ujung
mataku. Entahlah aku merasa sangat nyaman dekat dengannya, sekali tersakiti
olehnya aku merasa jatuh. Dan tidak mudah untuk kembali bangun.
***
Suasana pagi yang masih sejuk untuk
dinikmati semua orang ternyata tidak membuatku merasakan keindahannya. Kilauan
sinar sang raja pagi yang dipancarkan melalui celah-celah jendela juga tak
membuat hatiku tersinari. Semua tak seperti biasa saat aku merasakan keindahan
suasana pagi setelah datang berita duka ini. Berita yang sungguh menyedihkan
hatiku. Sesorang yang telah menyadarkanku serta motivatorku kini terbaring lemah
di rumah sakit. Aku mengetahui berita ini dari temanku. Sungguh, aku sangat
terenyuh kala ku mendengar cerita dari salah seorang temannya bahwa dia
mengidap penyakit jantung. Dan kali ini penyakit jantungnya kambuh.
Sepanjang perjalananku, pikiranku selalu
tertuju padanya.”Semoga cepat sembuh, Tata! Dan aku tunggu pancaran sinarmu
kembali yang mampu menuntunku dan mengeluarkanku dari jurang hitam selama ini.”
Tanpa sadar ada sembarut cahaya yang sangat menyilaukan mataku. Semua seolah
berhenti. Tubuhku juga terasa ringan melayang oleh hempasan angin. Aku
terhenyak, Tata mengejutkanku dari belakang. “woyy.. jangan melamun!” cerocos
Tata.
“Lho kamu sudah sembuh?” tanyaku.
“kamu lihat ndiri gimana?”
“ya.. semoga sih sudah.”
“aamin.. gimana kabarmu? Lama ya
kita nggak ngobrol?”
“hahh.. lama? Emang berapa tahun?
Berapa bulan? Berapa hari? Berapa jam? Berapa menit? Berapa detik? Aku
aja nggak ngitung, waah kamu ngitung yaa?”
“haha.. ya nggak juga sih. Kamu ini,
udah ah. Sekarang ada yang mau kamu omongin nggak?”
“banyak bangett, tapi aku bingung
mau mulai darimana?”
“dari awal hingga akhir!”
Aku canggung, salah tingkah di
depannya. Hal ini jelas membuatku lupa dengan segala yang mau aku omongin ke
dia. Kalau boleh jujur, sebenarnya aku pengen banget sharing dengannya. Tak
lama kemudian, pembicaraan kita mulai garing. Hanya diam lah yang terjadi
diantara kita.
***
Sesuatu memaksaku untuk keluar rumah
kala angin berhembus dari laut menuju daratan. Dingin menerpaku. Dengan
mengenakan jaket tebal, kulangkahkan kaki keluar rumah. Bagaimana bisa aku
kembali bertemu dengannya malam itu. Dia mengajakku ke suatu tempat, yang jelas
sangat indah. Dalam lalu lalang banyak orang, kami pandangi langit malam.
Sangat indah. Miliyaran bintang berjejer dan hanya ditemani satu galaksi yaitu
bulan. Aku berbincang-bincang panjang lebar dengannya. Seperti biasa, aku
selalu kikuk di depannya. Suasana hening seketika, dia menanyai cita-citaku dan
seputar masa depanku. Energiku bertambah kala dia menyinari hatiku kembali.
Nampaknya kehadiran Tata sangat
berharga dalam hidupku. Perlahan dia memutar dan menentukan arah hidupku,
menarik lenganku, dan membuatku berdiri tegap. Membisikkan seruan angan,
kepercayaan tentang masa depan dan pembelajaran di masa lampau.
“Terima kasih, Tata! Tanpamu aku tak
lebih dari seorang yang lalai.”
30 Maret 2012
Pelangi Putih-biru
Waktu berputar sangat cepat, masa
merah putih baru saja kuselesaikan. Sekarang saatnya masuk dalam gerbang putih
biru. Setamat SD aku di hadapkan dilema yang cukup besar. Aku terhimpit
di antara dua pilihan yang rumit. Sekolah negeri atau madrasah. Tiga perempat
hatiku memilih sekolah negeri. Tapi seperempat lainnya mengharuskan untuk
mematuhi orang tuaku sekolah di madrasah. Tapi pada akhirnya aku tak perlu
berpikir panjang karena takdir telah menentukan, kembali aku harus menerimanya
dengan ikhlas.
“Ibu, ayah, eyangti, aku pamit ya.
Minta doanya biar aku betah disana“ aku meminta restu kepada seantero rumah.
Dengan berat hati, aku mulai beranjak dari pintu rumah. Kulangkahkan kaki
menuju rumah baru yang masih sangat asing bagiku, begitu juga penghuninnya.
Rumah baruku jelas sangat berbeda dengan rumah yang aku tinggali sejak lahir
sampai sebesar ini.
Kericuhan menyambutku ketika
pertama kali aku datang, semua mata tertuju padaku. Entah apa yang mereka
bicarakan, tentangku atau tidak. Aku tetap minder. Wajah-wajah asing itu
menyalamiku dan menyuguhkan senyum ringannya. Ringan namun lembut dan membuatku
hanyut. Meski ragu, aku tetap mencoba membaur dengan mereka. Mungkin hanya aku
yang asing di sana, jadi pembicaraan mereka terdengar aneh dan garing di
telingaku.
Aku hanya berdiam diantara 300
peserta didik baru, sedangkan yang lainnya saling bersaling sapa,berkenalan,
dan bercerita seakan mereka sudah kenal lama. Sampai salah seorang temanku
mendekatiku dan mengajakku berkenalan “hey, kenalin aku Chacha. Kamu siapa?“.
“Icha“ jawabku singkat. Bagiku mendapat satu teman saja sudah sangat
senang.
Aku menyamar menjadi seorang
pendiam, hingga suatu ketika seseorang menghampiriku. Wajahnya yang teduh
menatapku dengan mimik iba. Dia bernama Bela, umurnya dua tahun lebih tua
dariku. Aku yakin ia orang yang baik. Awalnya ia menanyakan siapa namaku. Lalu
berlanjut ke kehidupanku sehari-hari dan juga masa laluku.
“Kangen ibuk.. kangen rumah..”
suaraku terbata-bata menahan tangis yang tak lama meledak juga. Sering aku
menangis di depan Bela, kala itu tubuh rapuhku tak jauh beda dengan mentalku
yang belum pulih dari keterpurukan. Belum sempat bercerita panjang, ada
sesuatu yang mengharuskan Bela pindah. Dan itu berarti aku harus beradaptasi
dengan kehidupan baruku, tanpa bergantung kepada Bela lagi. Tak pernah
terbersit sekalipun di otakku jika aku harus berpisah dengannya.“Dik, tetap
semangat ya.“ Bela berusaha menenangkanku. Tangis mengiringi perpisahan kami.
***
Hari-hariku selalu diwarnai
dengan kesedihan, apalagi tanpa Bela disampingku. Bahkan sampai dua bulanpun
aku belum mampu beradaptasi dengan baik. Aku bersikeras membujuk orangtuaku
agar menyetujuiku pindah sekolah, tapi hasilnya nihil. Mereka tetap memaksaku
agar tetap bertahan. Apalah dayaku, aku coba jalani semuanya dengan keikhlasan
meskipun berat.
Selang beberapa bulan, aku mulai
bisa berkomunikasi dengan sekitar. Aku menemukan banyak teman dan lisanku sudah
mulai bergerak aktif. Mungkin teman-teman menganggapku cerewet. Tapi sebenarnya
aku memang cerewet. Berbagai kegiatan baik di sekoalah maupun pondok, aku sudah
mulai bisa menyesuaikannya. Aku sudah bangkit, bukan lagi Icha yang pendiam.
Seperti apa yang dikatakan
kakak-kakak kelas, kelas tujuh itu masih lugu dan polos . Kelasku 7G yang
terpandang mayoritas adalah anak-anak bandel, tapi sikap kekanak-kanakan
tetaplah ada. Hingga suatu ketika kelasku mengalami perpecahan. Dengan
gampangnya aku malah lari dari perpecahan itu bersama satu temanku, Fanny. Ya,
kami memilih keluar dari kelas kala pelajaran kosong, hanya untuk
menghindari kericuhan.
Satu semester terlewati, perpecahan
itu belum juga selesai, hingga berita tersebut sampai kepada wali kelasku.
Beliau akhirnya turun tangan memecahkan masalah itu, dan Alhamdulillah kami
dapat bersatu kembali. Semenjak kejadian itu, kami menjadi semakin kompak.
Terbukti ketika ada berbagai even, lomba, classmeeting, dll, kami selalu
mendapatkan prestasi.
***
Aku naik kelas delapan,
tepatnya 8D. Sudah nggak asing lagi bagiku karena nggak sedikit temanku dari
kelas 7G yang sekelas lagi denganku. Hari pertama aku menduduki kelas delapan,
dalam pemilihan pengurus kelas teman-teman memilihku sebagai sekretaris. Aku
mulai tugasku dengan mendercakkan spidol di atas whiteboard.
Salah seorang ibu guru memerintahkan
untuk membentuk kelompok dan tiap kelompok harus berasal dari kelas yang
berbeda. Suasana kelas berubah ricuh seketika. Semua siswi kesana kemari
mencari kelompok. Dengan wajah yang lugu aku hanya duduk santai, tidak seperti
yang lainnya. “ngapain pada bingung mencari teman, toh pada dasarnya teman nanti
juga bakal datang sendiri. Lha wong konco kok milah-mileh..” Gumamku
dalam hati. Dan benar, seketika juga empat orang menghampiriku kemudian
mengajakku untuk bergabung dalam kelompok mereka. Mereka adalah Rira, Acha,
Fafa, dan Lili.
Pertama kali aku berkenalan dengan
mereka, aku sudah merasakan hawa yang berbeda. Mereka sangat baik. Seiring
waktu berlalu, aku semakin akrab dengan mereka berempat. Hari-hari kami lalui
bersama. Dengan rasa kebersamaan, kekeluargaan, saling memahami, dan janji yang
terpatri kuat dalam hati kami, akhirnya kami memutuskan untuk bersahabat dan
kami menamai “D’Chafafiya” sebagai tanda kebersamaan kami. Bukan untuk
dibangga-banggakan, bukan untuk jadi penguasa, apalagi menjadi gank. Hanya
sekedar tempat untuk berbagi dengan rasa saling mengerti. Hari-hari kami lalui
bersama dengan gelak canda tawa, kemanapun kami selalu bersama.
Lambat laun kehidupan baruku
mulai menyatu dengan kenyamananku. Aku hanyut dalam canda mereka yang
sesekali menyentil di sela-sela aktifitasku. Keberadaanku sebagai anggota
“D’Chafafiya” sampai di puncak tatkala rasa sayang mereka terhadapku tak kurang
dari kata ‘teramat sangat’. Aku semakin betah berada di komunitas ini.
Suatu
ketika, aku dan Rira bertengkar. Siapa lagi kalau bukan aku yang memulainya. Tapi
bukan salahku sepenuhnya, aku dan Rira memang sama-sama keras kepala.
Bagaikan dua magnet yang mempunyai kutub sama, apabila kedua kutub yang sama
tersebut didekatkan maka akan saling menolak. Sedangkan Acha, Fafa, dan Lili
selalu meminta kami untuk damai. Berulang kali Rira juga telah meminta maaf
kepadaku, tapi aku tak kunjung dingin. Ironis memang, pertengkaran itu
berlangsung hingga kenaikan kelas 9. Rasa benciku kepada Rira memuncak tatkala
teman-teman sekelasku mengejekku dan Rira sebagai soulmate, aku semakin
acuh kepadanya. Suatu hari Rira memberiku surat yang tak lain isinya adalah
permintaan maaf. Tetapi aku justru menganggap dia lebai, benciku terhadapnya
semakin mendalam.
***
Persepsi
banyak orang bahwa kelas 9 adalah masa paling indah. Tak bisa dipungkiri lagi
kelas 9 adalah tingkatan paling tinggi diantara kelas 7 dan 8, dan dimana-mana
yang paling tua adalah yang dijadiin panutan bagi adik-adik kelas. Tapi kelas 9
itu tidak mudah, soalnya dihadapkan dengan berbagai persiapan menyongsong UN.
Dan sudah paten UN menjadi syarat kelulusan.
Awal
kelas 9 aku belum juga baikan sama Rira. Hari demi hari, persahabatan
D’Chafafiya justru semakin goyah. Entah kemana perginya kekompakan kami, dalam
waktu yang singkat kami berlima berubah menjadi saling acuh tak acuh. Disela
luluhnya kekompakan kami, Lili mulai menemukan hidup barunya. Lili ambigu
terhadapku, ia seolah nggak pernah menjadi bagian yang berharga dalam
hidupku. Sikapnya kepadaku seringkali membuatku tertatih.
***
Aku
merasa ada yang lain dengan kedekatan Lili sama Ree. Ree adalah teman
sekelasku, dia mencoba menyelam dalam hidup Lili. Perlahan dia mendekati Lili,
sering kali aku mendapati Lili bersama Ree. Entah kenapa aku nggak suka
dengan kedekatan mereka. Semenjak ada Ree aku merasa terabaikan oleh Lili.
Rupanya Ree telah merubah hidup Lili. Lili seolah nggak mengenaliku lagi, dia
berubah acuh kepadaku. Bodohnya diriku justru aku malah balik acuh kepadanya.
Mungkin
D´chafafiya sudah diambang kehancuran. Belum lama aku punya masalah sama Lili,
Acha dengan lugunya menusukku dari belakang. Sahabat yang selama ini sangat ku
percaya mengkhianatiku. Diam-diam ia menghanyutkan. Kemana janji persahabatan
kita ? Kala itu aku merasa terkhianati oleh sahabat-sahabatku sendiri. Janji
yang terikat kuat dalam tali persahabatan kita tiba-tiba kandas ditengah jalan.
Aku selalu berdoa dan berharap D’Chafafiya dapat bersatu kembali.
Kala
pelajaran kosong, aku keluar dari kelas untuk menghindari Lili. Karena aku tau
ia pasti akan bersama Ree, larut dalam gelak tawa. Aku tidak terbiasa dengan
keadaan ini. Biasanya aku lalui hari bersama Lili, Acha, dan Fafa. Kini aku
harus merengkuh hariku tanpa mereka. Sangat hampa rasanya tanpa mereka. Satu
pinta datang dari dalam hati kecilku “Beginikah akhir dari perjalanan
D’Chafafiya?” air mataku menetes dari ujung mataku dan berakhir di sudut
bibirku.
***
Persepsi
banyak orang menganggap bahwa masa remaja adalah dimana orang tersebut tidak
dapat mengendalikan emosinya dengan baik. Alhasil memang persepsi tersebut benar-benar
nyata dalam hidup. Waktu berputar sangatlah cepat, menjelang detik-detik UN
kelasku dihadapkan dengan konflik yang cukup rumit.
“Sudaaah…
sabar temaan, ini mungkin cobaan kita sebelum ujian. Tetap semangat yaa..!!”
sergah ketua kelasku yang berhasil membuat dirinya menjadi titik pusat
perhatian. Kali ini konflik kelasku cukup rumit karena berhubungan dengan kelas
tetangga. Sangat bengis, kala kelasku meminta maaf kepada mereka alhasil yang
kami dapati justru cacian dan makian.
Seiring
waktu berlalu, kelas 9 disibukkan dengan berbagai persiapan baik mental
maupun fisik. Tanpa tersadari konflik tersebut mereda dengan sendirinya.
***
Teeet.. teet.. bel dua kali menandakan waktu habis. Try out keduaku selesai
sudah, dan itu berarti masih dua kali try out yang harus aku jalani. Tapi kini
semangatku sudah luluh. Bahkan dalam try out ketiga dan keempat nilaiku semakin
jatuh, aku kembali rapuh. Kerapuhanku tak lama kemudian pulih kala
sahabat-sahabatku kembali memotivasiku untuk bangkit.
Senang sekali, kini D’Chafafiya bersatu kembali. Tapi satu hal yang belum
terselasaikan, aku sama Rira masih saling acuh.
***
Hari
perpisahan tiba. Aku harus kembali menerima kenyataan bahwa aku akan berpisah
dengan Lili, sahabatku juga teman sebangkuku selama dua tahun. Tangis
mengiringi kami ketika lagu “tentang kita” terdengar dari pusat podium. Yang
tak lain dilantunkan oleh paduan suara dari adik-adik kelas. Semua tenggelam
dalam keharuan. Ditengah hiruk pikuk, aku sengaja membuat secuil bait puisi
sederhana yang aku persembahkan untuk Acha, Lili, Fafa, dan Rira.
sahabatku,
Bagaimana kamu bercerita akan janji-janjimu, cerita tentang keinginanmu, dan beberapa hal mendasar yang menjadikan engkau tetap tegar dalam menjalani hidup, akan tetap menjadi pembelajaran buatku.
hasrat dan semangatmu yang akan selalu menjadi kekuatan untuk diriku belajar menjadi seseorang yang tabah.sahabatku,
Sangat lepas dan jelas diriku untuk mengenang bagaimana kita duduk bersama, bercerita, bercanda, dan mempelajari bagaimana susahnya menjadi seseorang yang bercita-cita untuk berbakti kepada orang tua. ketulusanmu membuatku mengerti apa itu cita-cita.sahabatku,
Tiada hal terindah yang bisa kita lewatkan untuk kembali mengenangmu dan menjadikanmu menjadi suatu bagian dari perjalananku. terima kasih telah menjadi bagian keluargaku dan mengisinya menjadi suatu bagian yang indah.sahabatku,
Mengenangmu kembali adalah belajar tentang keceriaan menikmati hidup, belajar tentang semangat hidup, belajar tentang cinta, belajar tentang indahnya persahabatan, juga belajar tentang pemaknaan atas keagungan-Nya. Aku hargai itu.. terima kasih sobat.
Tiga tahun bukanlah waktu yang lama, bagiku sangat singkat untuk waktu belajar
tantang hidup,pengorbanan, dan alam. Sudah saatnya aku harus meninggalkan putih
biru, sekolah dimana aku menemukan banyak ilmu baik science maupun
agama.
Kini
tiada kujumpai lagi adonan dalam putih biru. Masih sangat tergambar jelas
dibenakku, masa jaya putih-biru penuh dengan coretan tinta berwarna. Dan aku
akan menyimpan seuntai kenangan putih biru itu dalam memory permanenku.
S
E L E S A I
Langganan:
Postingan (Atom)